Uncategorized

DETIK: Inovator 4.0 Indonesia dorong Presiden Jokowi bangun SDM imajinatif

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengundang tim inovator 4.0 yang dipimpin oleh Budiman Sudjatmiko ke Istana Negara, Senin (19/8/2019) guna menyampaikan gagasan mengenai potensi percepatan pembangunan SDM melalui pendidikan berbasis teknologi atau edtech.

Diantara rombongan inovator 4.0 yang hadir tersebut salah satunya adalah Sabda Putra Subekti, Co-founder dan CEO Zenius Education. Pertemuan tertutup tersebut membahas rencana pemerintah dalam membangun SDM Indonesia 5 tahun ke depan.

Menurut Sabda, pemerintah sangat terbuka dan memberikan dukungan yang sangat positif terhadap gerakan-gerakan inovatif dan industri kreatif untuk mengembangkan kualitas manusia Indonesia dengan bantuan teknologi.
 
“Pak Jokowi sangat antusias menanggapi perkembangan industri edtech. Beliau menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, salah satunya melalui pendidikan berbasis teknologi, dan kami sangat mengapresiasi hal tersebut. Dengan bantuan teknologi, peningkatan kualitas manusia dapat dipercepat sepuluh hingga dua puluh kali lipat dengan cara yang efisien,” jelas Sabda.
 
Dengan adanya dukungan dan bantuan dari pemerintah, Sabda yakin bahwa upaya industri edtech untuk memberikan dampak sosial yang positif di masa depan dapat berjalan lebih efektif. Hal ini senada dengan yang disampaikannya ketika menjadi narasumber di Edtech Asia Summit yang diselenggarakan di Singapura pada awal Agustus lalu.

Di acara tersebut, Sabda yang juga merupakan ketua Indonesia Education Technology Association (INETA) bersama dengan Amanda Witdarmono, Chief of Education Initiatives Zenius Education menyatakan bahwa platform digital memudahkan akses perolehan dan peningkatan kemampuan pelajar serta orang dewasa, serta dapat memperbanyak pelatihan kejuruan berbasis industri yang bisa disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan yang spesifik.
 
Sabda mengungkapkan, tantangan yang ada terhadap pendidikan Indonesia saat ini adalah rendahnya kemampuan literasi dan numerik yang tercermin dari skor PISA dan PIAAC dibandingkan dengan negara-negara lain.

Kondisi tersebut dianggap ironis, karena setelah Indonesia mampu mengembangkan ekonominya hingga menjadi bagian dari G20, kualitas pendidikannya masih tertinggal amat jauh dibandingkan negara-negara berkembang sekalipun.
 
Di sisi lain, menurut Sabda, kualitas pendidikan yang idealnya dihasilkan bukan saja hanya berfokus pada kemampuan kognisi para peserta didik yang berfokus pada penalaran dan pemikiran saintifik, namun juga peningkatan dalam aspek lainnya seperti  empati, afeksi, dan toleransi.

“Dengan demikian, Indonesia tetap menjalani mandat dari para bapak bangsa bahwa pendidikan itu tidak hanya mempertajam wawasan, tetapi juga memperhalus perasaan,” ujarnya.
 
“Penting sekali bagi setiap pelaku industri pendidikan untuk tidak hanya mengutamakan akses, namun juga memerhatikan konten edukasi yang dikembangkan. Pada dasarnya, education technology itu dimulai dengan education, pendidikannya, baru teknologinya.” tegas Sabda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.